Tambang Galian C

Gunung-gunungpun Dipangkas Demi Pembangunan
JK, (2011):

Pembangunan, ibarat pepatah memakan buah simalakama. Gencarnya aktifitas pertambangan batu gunung (galian C) sebagai bahan utama pembangunan infrastruktur, menimbulkan dampak kerusakan lingkungan cukup parah.

Laju truk-truk besi pengangkut bebatuan gunung, hasil tambang galian C di Desa Awang Bangkal, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan terseok-seok saat melintasi jalan penuh lobang dan berlumpur. Hujan yang terus mengguyur, membuat lobang-lobang di jalan tergenang air, sehingga sopir truk harus berhati-hati.
Di kejauhan, seorang ibu yang membonceng anaknya sepulang sekolah dengan menggunakan sepeda, hanya bisa memaki setelah bajunya ikut kecipratan air bercampur lumpur, saat truk-truk batu melintas. Hampir tujuh kilometer, jalan provinsi yang menghubungkan lokasi wisata waduk Riam Kanan dan sejumlah desa di kaki pegunungan Meratus tersebut, mengalami rusak parah.
Di beberapa titik, aspal jalan telah menghilang dan berubah menjadi genangan lumpur. Bahkan jalan selebar empat meter yang membelah lereng-lereng perbukitan tersebut dipenuhi tanah dan bebatuan, akibat longsor.
Sepanjang jalan, dapat terlihat jelas maraknya aktifitas penambangan batu gunung atau galian C yang dikerjakan baik menggunakan alat berat maupun penambangan konvensional yang dikerjakan warga. Gunung-gunung batu yang membentang sepanjang kaki pegunungan Meratus ini, menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar warga desa.
“Aktifitas tambang batu di wilayah Desa Awang Bangkal dan beberapa desa di Kecamatan Karang Intan ini sudah berlangsung puluhan tahun,” kata Khairil Ahyar, putera asli Karang Intan yang kini menjadi camat. Dulu aktifitas penambangan batu dilakukan secara tradisional.
Bebatuan yang menonjol di atas permukaan tanah, dibakar sampai retak dan kemudian baru dipecah menggunakan palu godam. Proses ini memakan waktu lama dan hasil yang tidak seberapa.
Namun seiring perkembangan jaman dan pesatnya pembangunan, berimbas pada meningkatnya permintaan material bagi pembangunan infrastruktur. Kini, tercatat ada enam perusahaan pertambangan galian C modern dengan berbagai alat berat, termasuk mesin crusser pemecah batu.
Warga desapun tidak mau ketinggalan, dengan payung koperasi unit desa (KUD), mereka ikut menjadi penambang batu gunung dan tanah, dengan anggota mencapai 700 orang. Diperkirakan jumlah pekerja tambang galian C di Desa Awang Bangkal ini mencapai 2.000 orang. “Tambang batu ini sumber mata pencaharian utama warga kami,” tuturnya.
Tetapi dirinya tidak menampik, keberadaan tambang batu di wilayahnya telah membuat hilangnya kawasan perbukitan dan rusaknya bentang alam. Demikian juga dengan kegiatan pertambangan yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan, membuat bencana tanah longsor kerap terjadi.
Pasir dan lumpur yang hanyut ke sungai, menyebabkan sungai-sungai mendangkal. Menurut Khairil pihaknya sangat berharap pemerintah daerah, dapat mengatasi ancaman kerusakan lingkungan akibat aktifitas tambang batu ini.
Wasis Nugraha, Camat Aranio, mengeluhkan kondisi kerusakan jalan akibat aktifitas angkutan material di Kecamatan Karang Intan. Wilayah Aranio sendiri berada di bagian paling ujung, dimana ribuan warga dari belasan desa setiap hari harus melalui jalan yang rusak parah untuk pergi ke kota kabupaten.
Kondisi kerusakan lingkungan akibat aktifitas pertambangan batu ini juga dikeluhkan, Farid Sofyan, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar. Menurutnya, pemerintah daerah harus segera menertibkan dan menetapkan wilayah pertambangan rakyat tersendiri untuk menekan tingkat kerusakan lingkungan.
Selama ini aktifitas pertambangan batu di Desa Awang Bangkal dan beberapa desa lainnya seperti Beruntung Baru, dilakukan secara serampangan dan tidak memperhatikan tata kelola pertambangan yang baik.
Manager Kampanye, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Dwitho Prasetyandi, menegaskan pihaknya sejak lama mendesak pemerintah daerah setempat menertibkan perijinan serta aktifitas pertambangan galian C di kaki pegunungan meratus tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan Walhi, gencarnya kegiatan tambang galian C telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan berupa rusaknya bentang alam dan ancaman tanah longsor.
“Gunung-gunung pun banyak yang hilang karena ditambang. Rusaknya kawasan hutan yang merupakan area resapan air, sehingga bencana banjir terus menghantui masyarakat sekitar,” ucapnya. Seharusnya, kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah tidak mengenyampingkan dampak kerusakan lingkungan.

Harga sebuah pembangunan
Inilah harga sebuah pembangunan, ucap Arsyadi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalsel dengan datar. Menurutnya kerusakan lingkungan yang terjadi di Kecamatan Karang Intan dan beberapa daerah lokasi tambang material lain di wilayah Kalsel tidak dapat dihindari.
“Kita adalah pengguna material saja, dan sudah seharusnya tanggung jawab mencegah kerusakan lingkungan ada pada pemerintah kabupaten, terkait ijin maupun Amdal perusahaan tambang dimaksud,” ujarnya.
Sudah lebih dari tiga dekade terakhir, gunung-gunung batu dicongkel untuk memasok kebutuhan utama pembangunan infrastruktur jalan dan bangunan, baik milik pemerintah maupun masyarakat umum. Setiap harinya, puluhan bahkan ratusan kubik batu agregat dipasok, untuk proyek pembangunan di berbagai kabupaten/kota di kalsel dan kalteng.
“Material bebatuan gunung kalsel termasuk berkualitas baik dan selama ini juga memasok untuk keperluan pembangunan di kalteng,” tuturnya. Namun Arsyadi, juga mengakui bahwa lalu lalangnya armada pengangkut material ini, punya andil besar terhadap kerusakan jalan.
Karena itu tidak mengherankan, jika kondisi sejumlah ruas jalan negara seperti jalan Lingkar Utara hingga perbatasan Kalsel-Kalteng di Kecamatan Anjir, Barito Kuala, terus menerus dalam kondisi rusak, meski perbaikan tambal sulam telah sering dilakukan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: