Waduk Riam Kanan

Riam Kanan Sumber Kehidupan
JK, (2011):

Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar, merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Betapa tidak waduk yang dibangun dengan menenggelamkan sembilan desa pada 1963 tersebut menjadi sumber air baku PLTA, PDAM, pertanian dan perikanan, hingga obyek wisata.
Geliat kehidupan warga Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio yang berada di tepi waduk Riam Kanan berjalan perlahan. Bertolak belakang dengan derap kehidupan masyarakat perkotaan yang selalu dikejar waktu.
Budaya mawarung (makan di warung) masih terlihat kental. Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang menghabiskan waktu pagi harinya dengan duduk di warung, sambil menikmati secangkir kopi atau teh ditemani panganan (wadai) lokal, sebelum melanjutkan rutinitasnya.
Sebagian besar warga desa menggantungkan hidup dari waduk riam kanan, sebagai nelayan keramba dan petani di lereng-lereng pegunungan. Ada juga yang bekerja sebagai buruh pada tambang galian C.
Desa kecil ini menjadi daerah transit bagi ribuan warga di sepuluh desa bagian hulu waduk. Pelabuhan tiwingan lama dan terminal desa, punya peran sangat vital. Dan waduk riam kanan adalah jalur transportasi dan perekonomian utama warga.
“Desa Tiwingan Lama ini merupakan daerah transit warga yang bermukim di hulu untuk pergi ke kota kabupaten dan provinsi,” ucap Wasis Nugraha, Camat Aranio.
Setiap harinya, warga dari desa-desa di bagian hulu sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa yang berada di kaki pegunungan Meratus, singga di desa ini, untuk berniaga. Hasil kebun dan tangkapan ikan, bahkan emas dari hasil tambang rakyat masuk melalui jalur ini. Karena itu profesi sebagai tukang ojek pun, banyak digeluti warga.
Bagi para nelayan dan pehobi mancing, perairan sekitar waduk riam kanan, disebut sebagai salah satu surganya mancing. Mereka rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah untuk sewa perahu motor (klotok) untuk memancing di wilayah ini.
Tak hanya itu, waduk Riam Kanan menghadirkan pemandangan alam yang luar biasa dan menjadi obyek wisata andalan, meski belum tergarap maksimal oleh pemerintah daerah. Wisata alam di Pulau Pinus yang menyajikan keindahan alam kaki pegunungan dengan pepohonan pinus serta flora-faunanya menjadi incaran para wisatawan lokal dan mancanegara.
Keindahan alam perbukitan nan hijau, terlihat begitu indah sepanjang 25 kilometer perjalanan dari Kota Banjarbaru ke waduk Riam Kanan.
Keramba ikan milik warga yang berjejer di sepanjang aliran sungai, juga tak kalah menarik. Sayang kondisi jalan di wilayah ini dalam kondisi rusak cukup parah. Maraknya aktifitas penambangan batu (galian C), sangat memprihatinkan.
Bukit atau gunung-gunung kecil yang dulunya hijau dengan hutan lebat, kini banyak sudah rata karena terus digali untuk alasan penyediaan material pembangunan infrastruktur di perkotaan.

Ketersediaan Air Kian Terancam
Keberadaan waduk Riam Kanan, sangat tergantung dengan kondisi kawasan hutan sekitarnya di sepanjang kaki pegunungan Meratus dan taman hutan raya (Tahura) Sultan Adam. Maraknya aksi penebangan liar dan pertambangan, khususnya tambang emas di daerah aliran sungai di bagian hulu membuat, ketersediaan air waduk riam kanan semakin terancam.
Kardoyo, Manager PLTA Ir PM Noor, Riam Kanan, mengatakan setiap tahunnya waduk sedalam 60 meter ini mengalami pendangkalan hingga 25 Cm. “Masalah sendimentasi waduk ini sudah kami laporkan ke pusat sejak 2001 lalu dan diperkirakan pendangkalan waduk lebih dari dua meter,” ucapnya.
Hal ini sangat berpengaruh terhadap operasional tiga mesin pembangkit PLTA berkapasitas 30 Megawatt. Penurunan debit air waduk sangat terasa saat kemarau, dimana PLTA tidak dapat beroperasi maksimal, bahkan terhenti total. “Dampaknya krisis energy listrik di kalsel dan kalteng semakin parah,” keluhnya, sembari mengatakan pihaknya berharap pemerintah pusat segera menyelesaikan masalah ini.
Di sisi lain, berdasarkan hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel, ditemukan sungai riam kanan, telah tercemar logam berat seperti arsenik, mangan, seng, besi dan merkuri jauh diatas baku mutu. Kegiatan penambangan emas rakyat (konvensional) marak berlangsung di Desa Bunglai, hulu sungai Riam Kanan, Kabupaten Banjar,
“Sebenarnya sudah berulang kali, kami bersama kepolisian dan pemkab banjar melakukan operasi penertiban tambang emas illegal ini, tetapi selalu muncul kembali, karena potensi emasnya cukup besar di hutan meratus,” tambahnya. Pencemaran dan penurunan debit air waduk, selalu dikeluhkan pihak PDAM di tiga daerah yaitu Kabupaten Banjar, Kota Banjabaru dan Banjarmasin sebagai pengkonsumsi terbesar air waduk melalui jaringan irigasi.
Penurunan debit air di saluran irigasi juga dipengaruhi, maraknya pengalihan aliran air irigasi untuk kepentingan petani kolam ikan air tawar yang mencapai ribuan buah kolam. Pemerhati lingkungan asal Amerika, Rhet A Butler, mengatakan kondisi kerusakan kawasan hutan dan lingkungan di sekitar waduk Riam Kanan dan tahura, sangat parah dan memerlukan upaya ekstra semua pihak untuk membenahinya, agar keberadaan waduk riam kanan sebagai sumber kehidupan masyarakat dapat lestari. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: