Anyaman Margasari

Dari Belantara Rawa ke Mancanegara
JK, (Mei 2011):
Margasari, sebuah desa kecil di pedalaman rawa Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai sentra produksi anyaman. Produk anyaman penduduk kerajaan Negara Dipa ini mampu menembus mancanegara.
Puluhan pasang mata dengan seksama melihat tangan terampil Hamda, wanita paruh baya warga Desa Margasari, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin (250 Km dari Banjarmasin) begitu cekatan menganyam bilah-bilah kecil rotan menjadi berbagai produk anyaman. Bilah-bilah rotan yang sebelumnya sudah diberi pewarna tersebut, disulap menjadi aneka produk seperti tas, topi dan kerajinan anyaman lainnya.
Hari itu, rumah sederhana milik Hamda yang terletak di tepi Sungai Margasari ini, dipenuhi puluhan orang wisatawan lokal dari Jakarta. Bagi Hamda dan keluarga, kedatangan para pelancong luar daerah ini, merupakan suatu hal yang sangat diharapkan.
Karena selain sekadar melihat-lihat dan bertanya, para pelancong biasanya membeli produk anyamannya. “Silahkan bu, dilihat-lihat murah kok harganya,” tutur Hamda lembut menyambut para pengunjung. Ucapan bahasa Indonesia Hamda pun terdengar lancar, karena dirinya sudah sering melayani wisatawan dari Jakarta.
Hamda dan dua orang anak buahnya, mempraktekkan cara pembuatan kerajinan anyaman dari rotan sesuai permintaan para wisatawan. Beberapa orang dari mereka juga sibuk mengabadikan momen yang mereka anggap unik tersebut.
Topi dan tas dari rotan berwarna warni hasil kerajinan tangan yang dijual dengan harga Rp20.000-Rp30.000 ini, diborong para wisatawan. Bagi Hamda dan 200an keluarga warga Desa Margasari, profesi sebagai pengrajin anyaman merupakan sumber mata pencarian utama kaum ibu untuk membantu ekonomi keluarga.
Sementara, kaum prianya kebanyakan berprofesi sebagai petani dan nelayan sungai. Dengan berbekal sedikit pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, para pengrajin anyaman ini dapat mengolah produk anyaman mulai dari proses penyediaan bahan baku hingga produksi.
Rotan-rotan mentah yang biasanya dibeli dari Kota Banjarmasin, diwarnai dengan pewarna dari dedaunan di sekitar desa. Pewarna alam memang terus galakkan, karena selain murah juga menjadi ketentuan untuk memasarkan produk ke mancanegara.
Ada juga produk anyaman berbahan baku purun (tumbuhan rawa) dan enceng gondok (ilung). Produk anyaman menggunakan enceng gondok, justru lebih murah lagi, karena di sepanjang sungai sangat banyak enceng gondok.
Produk kerajinan lain yang dihasilkan warga pedalaman rawa di Kabupaten Tapin ini adalah kopiah (peci) Jangang yaitu peci berbahan baku akar jangang (sejenis tumbuhan rawa). Namun produksi kopiah jangang ini dari waktu ke waktu semakin sedikit, akibat semakin sulitnya mendapatkan bahan baku, disamping terbatasnya pembeli.
Di Margasari sendiri, hanya beberapa keluarga saja yang secara khusus memproduksi kopiah jenis ini. Seperti yang digeluti keluarga Rugayah,43. “Biasanya permintaan kopiah jangang baru banyak saat menjelang ramadhan. Tapi pada hari biasa tergolong sepi,” ucapnya.
Kopiah Jangang, umumnya berwarna coklat yang merupakan warna asli akar Jangang dan dibuat dengan anyaman hasil pekerjaan tangan.
Untuk membuat satu kopiah jangang memerlukan waktu hingga sepuluh hari. Hal itu menyebabkan, harga kopiah jangang, tergolong mahal dibandingkan harga songkok maupun kopiah haji.
Satu kopiah jangang dijual mulai dari Rp30.000 hingga Rp200.000, tergantung kehalusan anyaman. Semakin halus anyamannya, maka harganya pun semakin tinggi. Peminat kopiah jangang pun terbatas pada orang-orang tua, maupun warga banjar perantauan ataupun pelancong untuk sekedar oleh-oleh.
Kendala pemasaran dan permodalan
Margasari adalah sebuah desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai pengrajin anyaman rotan dan purun sejak ratusan tahun silam. Saat ini kreasi kerajinan warga pedalaman ini sudah memasuki pasar Eropa seperti Swedia, timur tengah, Jepang, Korea dan Canada.
Walau Margasari, merupakan daerah sentra produksi anyaman andalan Kalsel, namun lemahnya pemasaran dan permodalan menjadi kendala dihadapi pengrajin. “Hasil kerajinan warga kami ini, sudah menjangkau mancanegara,” tutur Abdul Hadi, Camat Candi Laras Utara.
Tetapi diakuinya, para pengusaha pengumpul lah yang menikmati keuntungan dari ekspor kerajinan anyaman warganya. Sementara warga Desa Margasari masih berkutat pada kemiskinan.
Hal serupa juga dikemukakan, Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindag Kalsel, Gusti Iqbal yang menyebutkan kendala utama pemasaran produk anyaman asal Kalsel adalah ketatnya persaingan dan desain produk kurang diminati pasar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: