Bengkel Terapung

Bertahan Hidup Dengan Usaha Bengkel Terapung
JK, (Mei 2011):
Di tengah kesulitan, pasti ada jalan keluar. Artoni, 40 warga Desa Negara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan merintis usaha bengkel dan jual beli sepeda bekas dengan menyusuri wilayah terpencil menggunakan perahu motor.
Siang itu, merupakan hari ke sepuluh bengkel sepeda terapung milik Artoni, berlabuh di pelabuhan rakyat di Desa Margasari, Kecamatan Candi Laras Utara, sebuah desa terpencil di Kabupaten Tapin. Bengkel sepeda ini cukup unik karena berada di atas perahu motor (klotok).
Dengan hanya ditutupi tenda plastik, Artoni terlihat begitu tekun menjalankan usahanya memperbaiki sepeda milik warga Desa Margasari, meski cuaca saat itu sangat terik. Karena terbiasa berada di lapangan dalam kondisi cuaca panas yang tidak bersahabta seperti sekarang ini, membuat kulit tubuhnya tampak kehitaman.
Perahu motor yang oleng akibat diterjang gelombang sungai, juga tidak menyulitkan Artoni bekerja. Dalam waktu hampir satu jam, sebuah sepeda mini milik warga yang diperbaikinya pun selesai. Hari itu ada dua order perbaikan sepeda didapatnya.
Upah memperbaiki dua sepeda itu, sebesar Rp50.000. Bagi Artoni, penghasilan hari itu cukup berarti, karena tidak jarang dirinya tidak mendapatkan sepeserpun akibat tidak ada order.
“Sudah delapan tahun saya menggeluti usaha ini,” ucapnya membuka pembicaraan kepada sejumlah wartawan yang kebetulan datang berkunjung ke wilayah tersebut. Sebatang rokok dan secangkir kopi hitam, setia menemaninya, selain lantunan lagu dangdut dari radio butut yang ditaruh dibagian pojok buritan kapal.
Perahu motor jenis tiung kecil tersebut, telah disulap menjadi bengkel, showroom hingga tempat tinggal bagi Artoni. Perahu motor dengan panjang sekitar tujuh meter itu, dipenuhi puluhan body dan onderdil sepeda bekas.
Selain usaha bengkel, puluhan sepeda yang dipamerkan di atas perahu ini juga dijual dengan harga miring. Tidak itu saja, warga yang ingin mencari onderdil sepeda banyak tersedia.

Imbas terpuruknya industri kayu
Profesi yang digeluti Artoni dan kini menjadi penopang utama hidupnya bersama keluarga ini, sebenarnya bukanlah profesi diidamkannya. Ambruknya industri perkayuan, membuat mantan pekerja sawmill ini terpaksa banting stir menggeluti usaha bengkel sepeda.
“Terus terang saya tidak punya keahlian menjadi mekanik, tetapi saya belajar otodidak dan akhirnya bisa,” ungkapnya sedikit bangga. Namun diakuinya usaha bengkel terapung ini tidaklah mudah.
Hampir tidak ada waktu bagi dirinya berkumpul dengan keluarganya. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulannya dirinya harus menyusuri wilayah terpencil di sepanjang DAS Barito untuk mencari rejeki.
Bila uang cukup terkumpul barulah Artoni pulang ke rumahnya di Desa Nagara, Kecamatan Daha Utara, Hulu Sungai Selatan. Tidak jarang pula, karena sepi order Artoni tidak bisa membeli BBM untuk pulang, apalagi membawa uang bagi anak istrinya. “Apapun saya lakukan meski sulit, demi istri dan dua anak saya,” tuturnya.
Arpuani, tokoh masyarakat Desa Margasari, mengungkapkan kehadiran bengkel terapung di wilayahnya sangat ditunggu masyarakat setempat. Pasalnya, Desa Margasari yang terpencil dan kurang tersentuh pembangunan membuat warga sulit bepergian ke kota hanya untuk sekadar memperbaiki sepeda. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: