Beruang Madu

Beruang Madu pun Jadi Musuh Utama Masyarakat
JK, (Juni 2011)
Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah satu satu hewan dilindungi yang hidup di kawasan hutan pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Namun dalam sebulan terakhir, beruang madu pun menjadi musuh utama masyarakat, sehingga dilakukan perburuan besar-besaran.
Pagi itu, belasan orang warga desa, berjalan pelan menyusuri jalan setapak meninggalkan permukiman mereka menuju kawasan hutan kaki pegunungan Meratus. Mereka adalah warga Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang sehari-harinya bekerja menyadap karet.
Namun tidak seperti hari-hari biasa, para petani karet ini tidak hanya membawa ember dan alat sadap (toreh), tetapi juga peralatan berburu seperti golok, tombak, bahkan senjata api rakitan (dum-dum). Warga bermaksud berburu beruang madu, sambil bekerja di kebun menyadap karet.
“Sudah lebih satu bulan terakhir, warga kami melakukan perburuan beruang madu yang selama ini meresahkan dan kerap menyerang warga,” tutur Abdul Halil, Kepala Desa (Pembakal) Desa Kiram. Belakangan ini, beruang madu menjadi musuh warga sejumlah desa di Kecamatan Karang Intan, menyusul terjadinya kasus beruang madu yang menyerang warga.
Sepanjang 2011 ini saja, tercatat sudah sepuluh orang warga desa kaki pegunungan Meratus tersebut diserang beruang madu. Tidak ada korban jiwa, tetapi korban serangan beruang madu yang diduga berjenis kelamin jantan itu cukup serius sehingga harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Umumnya, kasus penyerangan beruang madu ini terjadi di lokasi perkebunan karet milik warga yang berdekatan dengan kawasan hutan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam. Terakhir, beruang madu menyerang warga Desa Mandi Kapau, bernama Muslimin saat sedang menyadap karet di kebun miliknya, akhir Juni lalu.
Muslimin menderita luka cakar cukup parah di kedua lengannya. Kasus penyerangan beruang madu ini, tak urung membuat sebagian warga ketakutan untuk pergi ke kebun mereka.
“Tidak hanya warga desa kiram, tetapi warga desa sekitarpun ikut resah, sehingga dibuatlah sayembara perburuan beruang madu ini,” ucap Khairil Anwar, Camat Karang Intan. Sedikitnya ada sekitar 8.000 warga yang bermukim di sejumlah desa seperti Desa Kiram, Desa Mandi Kapau, Desa Mandiangin Barat dan Desa Mandiangin Timur.
Desa-desa ini berada di kaki pegunungan Meratus dan masuk wilayah Tahura Sultan Adam (25 Km dari Kota Banjarbaru). Mayoritas warga desa adalah petani dan penyadap karet, dan sebagian lagi adalah pekerja tambang galian C (batu gunung).
Sayembara Membunuh Beruang Madu
Pihak desa, mengiming-imingi hadiah sebesar Rp3 Juta bagi siapa saja yang dapat membunuh beruang madu yang telah menyerang warga ini. Tidak hanya masyarakat, sebelumnya pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel dan aparat kepolisian setempat pun telah mencoba melakukan perburuan dengan menggunakan senjata dan jebakan.
Tetapi sejauh ini, upaya perburuan beruang madu ini belum juga membuahkan hasil. Menurut cerita warga, beruang madu yang menyerang warga ini sempat terluka sabetan golok warga saat terjadi penyerangan beberapa waktu lalu.
Kasus beruang madu yang turun hutan dan menyerang warga ini, juga pernah terjadi pada 1996 silam. Banyak dugaan mengapa hewan dilindungi ini sampai bertindak ganas dan menyerang warga. “Dulu ada beruang yang pernah dibunuh warga, mungkin itu betinanya, sehingga beruang jantan sekarang ini terus berusaha membalas dendam,” ujar Khairil.
Di sisi lain, sayembara perburuan hewan langka ini, mendapat pertentangan dari kelompok wartawan peduli lingkungan di Kalsel. “Jika membunuh beruang saat dia menyerang warga itu dapat dibenarkan. Tetapi melegalkan perburuan beruang madu, akan mengancam populasi hewan langka tersebut,” tutur Khaidir Rahman, Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia.
Sementara, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, Bambang Darsono Adji, mengatakan pihaknya menyetujui aksi warga untuk menangkap beruang madu yang menyerang dan membahayakan keselamatan warga Desa Kiram. “Beruang madu memang hewan dilindungi, tetapi juga dibolehkan untuk membunuhnya apabila membahayakan warga,” ujarnya.
Kondisi kerusakan lingkungan terutama degradasi hutan akibat masih maraknya penebangan dan alih fungsi kawasan hutan untuk berbagai aktifitas seperti pertambangan dan perkebunan, dinilai menjadi penyebab. “Kerusakan hutan otomotis membuat habitat satwa ikut rusak, sehingga banyak satwa mati,” tambahnya.
Kawasan hutan konservasi dan pendidikan, Tahura Sultan Adam seluas 120.000 hektar yang membentang di dua kabupaten, Tanah Laut dan Banjar, diperkirakan 40 persennya dalam kondisi rusak. Saat ini populasi beruang madu di hutan Tahura tinggal 12 ekor dan secara keseluruhan, populasi beruang madu di Kalsel hanya 50 ekor dari sebelumnya mencapai lebih 100 ekor.
Selain beruang madu, beberapa satwa langka khas Kalsel lainnya dalam kondisi terancam punah. Antara lain, Beruang Madu, Owa-owa, Kijang Emas dan Bekantan. “Dalam lima tahun terakhir, terlihat populasi berbagai jenis satwa termasuk satwa langka semakin berkurang bahkan terancam punah,” tambahnya.
Factor lainnya adalah bencana kebakaran hutan dan masih adanya aksi perburuan satwa langka oleh masyarakat, terus menjadi ancaman bagi keberadaan satwa langka seperti beruang madu. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: