Kebakaran Hutan

Menjaga Belantara di Tengah Keterbatasan
JK, (Juli 2011):
Kalimantan Selatan ditetapkan dalam Siaga II ancaman kebakaran hutan dan lahan. Keterbatasan personil dan peralatan, menjadi kendala utama menjaga ratusan ribu hektar belantara di wilayah ini.
Raungan sirine membahana di tengah pekatnya malam belantara, kawasan Mandiangan, Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Kabupaten Banjar. Tiga buah mobil pemadam Fire Jeep, melaju kencang, walau harus melalui jalanan aspal menuju lokasi wisata alam yang sebagian besar dalam kondisi rusak.
Beberapa saat sebelumnya, brigade pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Manggala Agni) menerima laporan tentang adanya kebakaran hutan di kawasan Tahura Sultan Adam. Sayangnya informasi mengenai kebakaran hutan ini, diterima setelah tiga jam api berkobar melubat pepohonan dan semak belukar.
Meski demikian sepuluh orang anggota Manggala Agni dari Daerah Operasi (DAOP) I Tanah Laut, tetap berteguh hati untuk melaksanakan tugas. Beratnya medan dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau menjadi kendala dalam upaya pemadaman.
Diperlukan waktu satu jam untuk sampai ke lokasi kebakaran. Tak banyak yang bisa dilakukan luas areal kawasan hutan yang terbakar sudah merambah hingga puluhan hektar. Kobaran api baru dapat dipadamkan, menjelang dinihari, setelah brigade pendukung datang serta faktor habisnya belukar yang menjadi “bahan bakar” api.
“Masalah klasik yang kita hadapi adalah keterbatasan personil, sarana, lokasi kebakaran kerap terjadi di daerah sulit dijangkau, serta ketiadaan sumber air,” ucap Zulkarnaen, Kepala DAOP I Manggala Agni, Tanah Laut.
Selama ini, luas kawasan hutan Kalsel seluas 1,77 Juta hektar dan ratusan ribu hektar areal penggunaan lain (APL), hanya di awasi dua DAOP yang ada di Tanah Laut dan Tanah Bumbu. Baru, pertengahan Juli 2011 lalu, Kementerian Kehutanan meresmikan operasional DAOP III yang dipusatkan di kawasan Tahura.
Padahal idealnya, Kalsel memerlukan dua sampai tiga DAOP tambahan, mengingat luasnya wilayah. Kebakaran hutan yang terjadi kawasan Tahura, masih mengandalkan bantuan brigade Manggala Agni dari daerah cukup jauh, sekitar 40 Kilometer di wilayah kabupaten tetangga Tanah Laut.
Demikian juga dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah Banua Enam atau wilayah utara kalsel, akan sangat sulit untuk ditanggulangi. Tak terkecuali, areal seputar bandara Syamsuddin Noor, merupakan daerah rawan kebakaran karena merupakan areal lahan pertanian tanah gambut.
Saat ini, jumlah personil Manggala Agni hanya 180 orang atau masing-masing 60 orang untuk tiap DAOP. Dengan pertimbangan giliran kerja, maka jumlah personil siap (stand by) hanya 30 orang. Para petugas Manggala Agni ini, adalah tenaga kerja kontrak dengan gaji Rp900.000 perbulan.
Sementara, jumlah armada mobil tanki pemadam (ukuran besar) cuma tiga buah, ditambah sebelas mobil fire jeep. Ditambah, delapan mesin portable, 20 pompa jinjing dan beberapa buah pompa apung.
Yang cukup ironis adalah, pernyataan dari Kepala UPT Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani yang mengungkapkan dana operasional pengamanan kawasan Tahura Sultan Adam seluas 112.000 hektar termasuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, serta pengamanan illegal logging, kurang dari Rp90 Juta pertahun.

Perda Kebakaran Tidak Jalan
Selain faktor cuaca yang ekstrim, kebakaran hutan dan lahan tidak lepas dari sulitnya menghilangkan budaya membakar dalam kegiatan pembersihan lahan pertanian dan perkebunan.
“Kita hanya dapat pasrah dan berdoa hujan turun. Karena untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan secara langsung, sangat sulit,” tutur Akhmad Ridhani. Sebenarnya, Kalsel telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 1/2008 tentang pengendalian kebakaran lahan dan hutan yang mengatur tentang sanksi terhadap pelaku pembakaran.
Bahkan, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan tegas menyatakan larangan (haram) kegiatan pembakaran hutan dan lahan ini. Tetapi apa boleh buat, sejauh ini belum ada pelaku pembakaran hutan dan lahan yang ditangkap, terlebih pemberian sanksi terhadap mereka.
Zainal Ariffin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel, menyebut situasi anomaly iklim berubah kemarau basah, menjadi keuntungan tersendiri karena mampu menekan kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut. Sepanjang 2011 ini, jumlah titik api terdeksi berdasarkan pantauan Satelit NOAA sebanyak 202 titik api.
Jumlah ini, jauh lebih sedikit dari kondisi kebakaran hutan dan lahan pada 2006 lalu yang mencapai 8.000 lebih titik api. Hingga kini, luas areal kawasan hutan terbakar termasuk kawasan hutan lindung dan konservasi Tahura Sultan Adam, diperkirakan lebih 400 hektar.
Tidak hanya bekaran hutan dan lahan, ancaman kebakaran permukiman pun menjadi persoalan tersendiri. Dalam dua bulan terakhir, sudah lebih dari 10 kali kebakaran permukiman dengan kerugian cukup besar. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: