Pendulangan Intan

Nasib Pendulang Intan Kian Terkubur
JK, (Juni 2011):

Dari waktu ke waktu produksi Intan dari tambang-tambang konvensional di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan terus menurun. Namun, ribuan warga tetap menggantungkan hidup dan peruntungan mencari intan yang sudah berlangsung turun temurun.
Anak-anak kecil dan para penjaja batu permata dan cincin, berlarian mendatangi bus wisata yang mengangkut puluhan wisatawan ke lokasi wisata pendulangan intan Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Mereka berharap para pengunjung yang datang ke lokasi pendulangan ini, membeli batu permata dan cincin untuk oleh-oleh.
“Murah bu, ini batu asli kecubung,” ucap Riswan,30 seorang penjaja batu permata dan cincin, merayu para wisatawan lokal yang sebagian adalah kelompok wartawan Komunits Jurnalis Pena Hijau Indonesia. Untuk satu cincin bermata kecubung misalnya ditawarkan dengan harga cukup murah Rp30.000, tetapi harga tersebut masih bisa ditawarkan hingga separuhnya.
Karena harga yang ditawarkan cukup murah, banyak dari pengunjung membeli cincin maupun bebatuan seperti kecubung, merah delima, safir, jamrud dan lainnya. Riswan adalah satu dari puluhan para penjaja batu permata dan cincin di kawasan pendulangan intan terbesar di Kalsel ini.
“Menjadi penjaja batu lebih menghasilkan ketimbang, mendulang karena sekarang ini intan sudah sangat sulit di dapat,” tutur Riswan yang sebelumnya adalah seorang pendulang intan. Namun profesi sebagai penjaja batu permata dan cincin inipun, sangat tergantung dari jumlah kunjungan wisatawan ke lokasi pendulangan yang selama ini hanya ramai saat liburan atau akhir pekan saja.
Muhiddin,45 seorang pendulang intan yang sudah menggeluti profesi sebagai pendulang lebih dari 20 tahun ini, menuturkan dari waktu ke waktu produksi intan terus menurun. “Mendulang intan ini untung-untungan, apalagi sekarang ini sangat jarang ditemukan intan berkrat besar,” keluhnya.
Profesi sebagai pendulangan intan ini digeluti tidak kurang dari 2.000 warga di empat wilayah Cempaka yaitu Kelurahan Cempaka, Sunngai Tiung, Bangkal dan Palam. Terdiri dari kelompok pendulangan menggunakan mesin yang diperkirakan mencapai 200 kelompok, ditambah pendulang manual, biasanya mereka yang tidak punya modal, serta penambang pasir dan batu koral.

Alih Profesi
Melihat aktifitas pendulangan, terkadang membuat kita berpikir betapa sulitnya mereka mencari batu permata bernilai tinggi, hanya demi sesuai nasi. Bertapa tidak, setiap harinya para pendulang dengan bertelanjang dada, meraup pasir dari dasar sungai dan dimasukkan ke dalam lenggangan, sebuah alat untuk mendulang berbentuk kerucut terbuat dari kayu.
Pasir yang terkumpul kemudian dilenggang (goyang) di permukaan sungai untuk memisahkan batuan koral dengan pasir.
Di dalam pasir sungai ini, para pendulang berharap ada terselip intan dan batu permata. Proses mendulang intan ini berlangsung dari pagi hingga petang.
Selain mendulang secara tradisional, proses mencari intan juga dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin pompa, kerap disebut tambang rakyat konvensional. Pekerjaan mendulang dimulai dari menembak lobang galian dengan cara menyemprotkan air lewat pipa.
Materi tanah, pasir bercampur bebatuan yang terkikis di dasar lobang, kemudian disedot menggunakan mesin pompa. Selanjutnya dilakukan penyaringan di sebuah anjungan berbentuk menara yang diletakkan di bibir lobang galian. Material hasil saringan itulah, dikumpulkan dalam sebuah kolam dan kemudian dimulailah kegiatan mendulang.
Para pendulang intan umumnya bekerja secara berkelompok. Setiap lobang galian dengan kedalaman antara 10-20 meter dikerjakan oleh satu atau dua kelompok yang terdiri dari lima sampai 10 orang.
Biasanya pendulang menganut sistem bagi hasil atau disebut abian. Sistem ini cenderung lebih menguntungkan para pemilik lahan dan pemilik mesin sedot. Sementara pendulang penghasilannya lebih banyak habis untuk membayar hutangnya kepada pemilik modal.
“Nasib para pendulang intan ini semakin terkubur,” ucap Syamsul Anwar, Lurah Pumpung. Betapa tidak, kebanyakan dari pendulangan sampai kini masih hidup dalam kemiskinan, bahkan untuk hidup sehari-hari penghasilan mereka sudah tergadaikan pada pemilik modal.
Mahyudin, Camat Cempaka, mengatakan pihaknya terus menerus melakukan sosialisasi untuk menyadarkan masyarakatnya, agar tidak lagi terlalu menggantungkan hidup dari mencari intan. Saat ini, pemerintah daerah telah membuat berbagai pilot project yang diharapkan bisa menjadi profesi pengganti seperti tambak ikan, berkebunan dan bertani, di sekitar lokasi pendulangan intan. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: