Sumber Pangan

Teratai Sumber Pangan Pengganti Beras
JK, (Juli 2011):
Warga pedalaman rawa, Kalimantan Selatan menyebutnya Talepok jenis panganan yang terbuat dari biji bunga teratai (Nymphaea). Panganan tradisional sebagian besar warga Kabupaten Hulu Sungai Utara ini, dinilai dapat dikembangkan menjadi sumber pangan pengganti beras.
Berbagai jenis panganan lokal seperti apam, bingka, bolu, donat (cincin), puding, gipang, hingga jus buah yang terbuat dari bunga teratai tersaji di meja panjang sebuah stan pameran milik Pusat Kajian Makanan Tradisional, Lembaga Penilitian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Aneka panganan tradisional ini, dipamerkan dalam kegiatan pekan pertanian rawa nasional I yang dipusatkan di Balai Penelitian Tanaman Rawa (balitra) Kalsel, Banjarbaru.
“Mari silahkan dicoba, kue khas hulu sungai utara,” ucap Rita Khairina, kepada para pengunjung stand pameran. Para pengunjung pun, banyak yang mencicipi aneka kue tradisional talepok ini. Dengan penyajian bentuk dan kemasan yang menarik, kue (wadai) talepok, dinilai tidak kalah dengan panganan sejenis dari bahan beras maupun gandum.
Rita Khairina yang menjabat Ketua Pusat Kajian Makanan Tradisional ini, mengaku sudah bertahun-tahun melakukan penelitian dan pengembangan tanaman teratai sebagai bahan pangan. Teratai merupakan tanaman yang tumbuh di permukaan air seperti kolam, sungai dan rawa.
Tanaman air ini mempunyai ciri, bunga dan daun keluar dari tangkai berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur. Tangkai teratai terdapat di tengah-tengah daun. Sementara daun teratai berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar.
Bagi warga pedalaman rawa dan sepanjang daerah aliran sungai di Kalsel, tanaman teratai ini sudah dikenal sebagai sumber makanan secara turun temurun. Tumbuhan teratai tumbuh subur di rawa-rawa dan sungai, seperti Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan dan Tapin dengan luas mencapai 800.000 hektar. “Teratai ini, sebuah sumber pangan yang besar dan murah, serta bisa dijadikan panganan pengganti beras,” terangnya.
Warga lokal, selama ini memanen buah teratai untuk dikonsumsi baik secara langsung maupun diolah terlebih dahulu menjadi aneka panganan. “Dulu warga terpaksa mengkonsumsi teratai, karena wilayah rawa kerap kali mengalami gagal panen padi,” ujar Siti Khairiyah, Ketua Kelompok Tani Rita Kartika, Desa Hambalau Tengah, Kecamatan Sungai Pandan, Hulu Sungai Utara.
Kelompok tani yang sudah ada sejak 1972 ini, dalam beberapa tahun terakhir menggeluti pengembangan tanaman teratai menjadi aneka panganan lokal. Saat ini, sebanyak 35 anggota kelompok tani ini, mampu memproduksi aneka panganan lokal dari teratai dan dipasarkan di sekitar wilayah Hulu Sungai Utara.

Gipang Teratai Masuk Rekor MURI
Salah satu yang menarik dari pameran aneka panganan terbuat dari teratai ini adalah, masuknya Gipang raksasa buatan kelompok tani Rita Kartika dalam rekor Museum Rekor Indonesia (Muri). Gipang raksasa berukuran lebar satu meter, setebal setengah meter dan panjang sepuluh meter ini, dicatat sebagai makanan gipang terbesar di Indonesia.
Teknologi pengembangan tanaman teratai menjadi sumber panganan pengganti beras ini, juga mendapat perhatian dari Menteri Pertanian, Suswono, saat meninjau areal pengembangan tanaman rawa di Balitra, Banjarbaru.
Tanaman teratai, selain dimanfaatkan sebagai tanaman hias juga dikenal memiliki khasiat sebagai tanaman obat-obatan tradisional untuk mengobati diare, disentri, keputihan, kanker nasopharynx, demam, insomnia, Hipertensi, muntah darah, mimisan, batuk darah, sakit jantung, Beri-beri, sakit kepala, berak dan kencing darah, anemia hingga ejakulasi dini.
Menurut penelitian Universitas Lambung Mangkurat, tanaman teratai mengandung karbohidrat, protein dan kalsium yang tinggi, sehingga mampu menjadi sumber pangan bergizi. Namun, sumber pangan ini harus diolah secara benar untuk menghindari serangan penyakit. (Denny Susanto)

~ oleh DennySAinan pada Juli 18, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: